A.
Judul
Peningkatan Aktivitas dan
Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD Negeri 2 Sukajaya dalam Pembelajaran Membaca
Dongeng pada Mata Pelajaran Bahasa Sunda Melalui Penggunaan Strategi Pemodelan
(Modeling Strategy)
B.
Penulis
Nama : Drs. Nasim Hendra Sutiana
Jabatan : Kepala SD Negeri 2 Sukajaya
No. Hp : 081321421956
C.
Abstrak dan Kata Kunci
Abstrak
Kata Kunci: Peningkatan, Aktivitas dan Hasil Belajar, Membaca
Dongeng, Strategi Pemodelan
Dalam
mencapai tujuan pembelajaran membaca dongeng pada mata pelajaran Bahasa Sunda,
siswa kelas IV SD Negeri 2 Sukajaya menghadapi kendala, yang disebabkan oleh
penggunaan strategi kurang tepat. Akibatnya, baik aktivitas maupun hasil
belajar siswa, tidak optimal. Untuk mengatasi masalah ini digunakan strategi
pemodelan. Guna membuktikan efektivitas strategi tersebut dapat meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar siswa di kelas ini, maka dilakukan penelitian
tindakan kelas. Setelah menempuh serangkaian kegiatan yang telah direncanakan,
secara bertahap terjadi peningkatan, baik pada aktivitas maupun hasil belajar
siswa. Ini dapat terjadi berkat kesungguhan guru dalam mengelola proses
pembelajaran. Selain itu juga, adanya kemauan untuk berubah pada siswa, sebagai
efek dari penggunaan strategi pemodelan.
D.
Pendahuluan
a.
Latar Belakang Masalah
Kemampuan membaca bagi
siswa, sangatlah penting. Dengan membaca, siswa akan memperoleh ilmu
pengetahuan dan pengalaman tertentu. Siswa yang berkemampuan membaca, akan
mampu menjawab setiap persoalan terkait dengan berbagai mata pelajaran pokok di
sekolah. Bahkan, dengan berbekal kemampuan ini, siswa pun akan mampu hidup
bersosial dengan baik di masyarakat. Berbeda dengan siswa yang kurang memiliki
kemampuan ini, setiap menghadapi persoalan biasanya menghindar dan bahkan ada
kecenderungan sering menutup diri, baik dalam lingkungan sekolah, lingkungan
keluarga, maupun lingkungan masyarakat.

Selain itu, siswa pun
harus sadar terhadap tuntutan ini. Tanpa adanya kesadaran dari siswa untuk
membaca, kiranya upaya guru akan sia-sia. Sadar akan hal itu sangat penting,
luangkanlah waktu untuk membaca. Bacalah sesuatu yang baik dan menguntungkan,
seperti membaca berbagai buku di perpustakaan, membaca majalah pendidikan,
membaca surat kabar, membaca karya sastra, seperti cerpen, novel, dan puisi.
Jika hal ini dapat dilakukan siswa dengan sebaik-baiknya, niscaya akan
diperoleh informasi yang dibutuhkan terkait dengan tujuan membacanya.
Sudah sejauh mana upaya di
atas dapat dilakukan guru kelas IV SD Negeri 2 Sukajaya, kiranya untuk
mengetahui hal ini sedikit banyaknya diperoleh gambaran dari hasil evaluasi
pembelajaran membaca dongeng. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, diketahui
sebagian besar siswa kurang mampu memenuhi tuntutan pembelajaran. Kondisi
seperti ini, sangat mungkin terjadi pula dalam pembelajaran membaca yang lain,
baik pada siswa di kelas ini maupun siswa di kelas lainnya di sekolah tersebut.
Kekurangmampuan sebagian
siswa di kelas ini dalam memenuhi tuntutan pembelajaran membaca dongeng, tidak
lepas dari upaya yang dilakukan guru, seperti dikemukakan Yamin (2008: 72) dan
Sanjaya (2008: 51) bahwa “Keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran
sangat ditentukan oleh upaya guru dan siswa terkait. Apabila satu sama lain
saling berupaya dengan baik, niscaya akan mencapai suatu keberhasilan yang
diinginkan”. Di antara upaya guru tersebut terdapat penggunaan strategi yang
akan memengaruhi setiap gerak langkahnya ketika mengelola proses pembelajaran
bagi siswa. Menurut Sanjaya (2008: 53) “Apabila proses pembelajaran yang
dikelola guru bermakna bagi seluruh siswa, kemungkinan yang akan terjadi bukan
hanya mereka akan belajar memenuhi setiap tuntutan, tetapi juga mereka akan
sampai pada tujuan yang diinginkan”. Sepertinya, kondisi yang dianjurkan oleh
ahli tersebut tidak terjadi dalam pengelolaan proses pembelajaran membaca
dongengyang telah diselenggarakan guru. Sebab itulah yang telah memberikan
dampak kurang baik terhadap proses belajar siswa, yang akibatnya bagi sebagian
besar siswa di kelas ini kurang mampu memenuhi setiap tuntutan tersebut.
Untuk membuktikan
kebenaran adanya dugaan masalah di atas, perlu dilakukan suatu penelitian dan
solusi yang tepat guna mengatasinya. Atas dasar itu yang telah mendorong kepada
penulis untuk mengadakan penelitian dan mengupayakan solusinya dengan
menggunakan strategi pemodelan (modeling
strategy). Menurut Iskandarwassid dan Sunendar (2009: 12) “Strategi pemodelan
(modeling strategy) merupakan upaya
menyiasati tercapainya tujuan dengan cara guru memberikan contoh yang mudah
dipahami siswa. Selain itu, contoh tersebut tepat untuk mewakili sesuatu yang
diinginkan dalam suatu pembelajaran”.
Dari pendapat ahli di atas
diperoleh suatu gambaran pengelolaan proses pembelajaran membaca dongengyang
disajikan dengan menggunakan strategi pemodelan (modeling strategy). Melalui penggunaan strategi ini, diharapkan
proses belajar siswa akan lebih bermakna dan memberi dampak perubahan pada
kemampuannya dalam memenuhi setiap tuntutan pembelajaran. Bertolak dari
persoalan inilah alasan penulis mengadakan penelitian tindakan kelas yang
berfokus pada “Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD Negeri
2 Sukajayadalam Pembelajaran Membaca Dongengpada Mata Pelajaran Bahasa Sunda Melalui
Penggunaan Strategi Pemodelan (Modeling
Strategy)”.
b.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar
belakang masalah di atas, terdapat permasalahan yang menunjukkan adanya
perbedaan antara harapan dan kenyataan dalam pembelajaran membaca dongengyang
telah diselenggarakan oleh guru dan siswa kelas IV SD Negeri 2 Sukajaya.
Permasalahan dimaksud dapat diidentifikasi sebagai berikut.
1) Aktivitas belajar siswa
kelas IVSD Negeri 2 Sukajayadalam mengikuti pembelajaran membaca dongengterkesan
kurang bermakna, dan ini telah menyebabkan sulitnya pemahaman siswa terhadap
materi ajar yang digunakan sebagai media untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
2) Kemampuan sebagian besar
siswa kelas IV SD Negeri 2 Sukajayasetelah mengikuti pembelajaran membaca
dongeng, kurang mencapai harapan.
c.
Rumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang dan
identifikasi masalah di atas, apa yang menjadi pokok masalah dalam penelitian
tindakan kelas ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Bagaimana langkah-langkah menggunakan
strategi pemodelan (modeling strategy)
agar dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 2
Sukajayadalam pembelajaran membaca dongeng?
2. Apakah penggunaan strategi pemodelan
(modeling strategy) dapat
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 2 Sukajayadalam
pembelajaran membaca dongeng?
d.
Cara Pemecahan Masalah
Pada uraian latar belakang masalah di atas,
telah disebutkan bahwa untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh guru dan
siswa kelas IV SD Negeri 2 Sukajayaguna mencapai tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran
membaca digunakan strategi pemodelan (modeling
strategy).
e.
Hipotesis Tindakan
Penelitian tindakan kelas ini
direncanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus dilaksanakan sesuai dengan prosedur,
yakni: (1) perencanaan tindakan (planning),
(2) pelaksanaan tindakan (acting),
(3) pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan (observing), dan (4) merefleksi proses dan hasil tindakan (reflecting). Melalui tiga siklus
tersebut dapat diamati peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Dengan
demikian, dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut “Dengan
diterapkan langkah-langkah strategi pemodelan (modeling strategy) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar
siswa kelas IV SD Negeri 2 Sukajayadalam pembelajaran membaca dongeng”.
f.
Tujuan Penelitian
1. Guru yang mengajar mata
pelajaran bahasa Sunda di kelas IV SD Negeri 2 Sukajaya dapat memperbaiki
kinerjanya dalam mengelola proses pembelajaran membaca dongengberdasarkan
langkah-langkah strategi pemodelan (modeling
strategy).
2. Siswa kelas IV SD Negeri 2
Sukajayadapat memperbaiki proses belajarnya menjadi lebih aktif dan hasil
belajarnya mencapai target yang diharapkan.
g.
Manfaat Penelitian
Ada beberapa manfaat
yang dapat diambil ihikmahnya, baik oleh yang terlibat secara langsung maupun
tidak langsung dalam penelitian tindakan kelas ini. Adapun manfaat dimaksud,
dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Manfaat secara teoretis
bagi semua pihak, antara lain:
1) bagi guru yang mengajar
mata pelajaran bahasa Sunda di kelas IV SD Negeri 2 Sukajaya berserta siswanya
yang terlibat secara langsung dalam penelitian ini akan memperoleh pengetahuan
tambahan tentang proses belajar mengajar membaca dongengberdasarkan strategi pemodelan
(modeling strategy);
2) bagi guru yang mengajar mata
pelajaran bahasa Sunda di kelas lainnya, baik yang bertugas di sekolah tersebut
maupun di tempat lain akan memperoleh pengetahuan tambahan, baik pengetahuan
tentang proses penelitian tindakan kelas maupun proses pengelolaan pembelajaran
membaca dongengberdasarkan langkah-langkah strategi pemodelan (modeling strategy);
3) bagi sekolah tempat
berlangsungnya penelitian tindakan kelas ini akan menambah koleksi sumber
bacaan bagi para guru yang ingin memperdalam pengetahuan tentang penelitian
tindakan kelas dan proses pengelolaan pembelajaran membaca dongengberdasarkan
langkah-langkah strategi pemodelan (modeling
strategy).
2. Manfaat secara praktis bagi
semua pihak, antara lain:
1) guru yang mengajar mata
pelajaran bahasa Sunda di kelas IV SD Negeri 2 Sukajaya beserta siswa yang
terlibat secara langsung dalam proses penelitian tindakan kelas ini selain
mendapat pengalaman sebagai pelaku juga masing-masing akan mendapatkan
kesempatan untuk memperbaiki kinerjanya di masa lalu;
2) bagi guru yang mengajar mata
pelajaran bahasa Sunda yang lainnya, baik yang bertugas di sekolah tersebut
maupun di tempat lain akan memperoleh tolok ukur dalam melaksanakan penelitian
tindakan kelas dan proses pengelolaan pembelajaran membaca dongengberdasarkan
langkah-langkah strategi pemodelan (modeling
strategy);
3) bagi sekolah tempat
berlangsungnya penelitian tindakan kelas ini akan memperoleh bahan refleksi
penting untuk meningkatkan mutu pengelolaan proses pembelajaran mata pelajaran
bahasa Sunda.
h.
Landasan Teori
a) Membaca
Dongeng
Dongeng
adalah cerita fiktif atau cerita imajinatif. Oleh karena itu, di dalam dongeng
ada tokoh, watak tokoh, alur, latar dan unsur cerita lainnya. Perbedaan yang
mencolok dengan cerita – cerita lainnya adalah pada kefiksiannya. Di dalam
dongeng mungkin akan menemukan manusia bisa terbang atau binatang bisa bicara.
Dari situlah dongeng memiliki daya tarik tersendiri, khususnya bagi anak –
anak, selain itu dongeng juga menyimpan moral value apa yang menjadi pesan
dongeng tersebut, dan ini menjadi daya tarik bagi orang tua dalam pembelajaran
kepada anaknya.
Jenis-jenis
dongeng, meliputi:
1.
Fabel
adalah cerita yang diperankan oleh binatang yang bertingkah laku seperti
manusia. Contoh Fabel : Kancil dan Buaya, Si Loreng.
2.
Legenda
adalah cerita tentang asal mula (nama suatu tempat, asal-usul dunia tumbuhan,
asal-usul dunia binatang). Contoh Legenda : Terjadinya Tangkuban Perahu,
Asal-usul Banyuwangi.
3.
Mitos
adalah cerita tentang makhluk halus, dunia gaib atau kepercayaaan masyarakat.Contoh
Mitos : Dewi Sri, Nyi Roro Kidul.
4.
Sage
adalah cerita tentang kepahlawanan dicampur dengan fantasi. Contoh Sage: Ken
Arok dan Ken Dedes, Tutur Tinular.
5.
Farabel
adalah cerita yang bersifat mendidik. Contoh Farabel : Malin Kundang, Lebai
Malang.
Unsur-unsur intrinsik dongeng, meliputi:
1.
Tema
2.
Tokoh
3.
Penokohan
/ perwatakan
4.
Latar /
setting
5.
Alur /
plot
6.
Sudut
Pandang / Point of View
7.
Amanat
b) Tuntutan
dalam Pembelajaran Membaca dongeng
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kelas IV SD untuk Mata
Pelajaran Bahasa Sunda pada semester I terdapat suatu tuntutan yang harus
dipenuhi siswa setelah mengikuti proses pembelajaran membaca dongeng. Tuntutan dimaksud
sekurang-kurangnya siswa mampu: (1) nyebutkeun para palaku tina eta dongeng fabel, (2) nuduhkeun
gagasan pokok tina eta dongeng, (3) nangtukeun
hubungan analogis tina eta carita, dan (4) nyaritakeun deui eta eusi tina eta
carita.
Untuk mampu memenuhi tuntutan di atas, setiap siswa harus memahami benar
tekniknya yang tepat. Dalam rangka itu, guru harus memberikan pemahaman kepada setiap
siswa, tentunya melalui proses pembelajaran yang mudah dan bermakna untuk
mencapai tujuan tersebut.
c) Strategi
Pemodelan (Modeling Strategy)
Pemodelan artinya dalam
sebuah pembelajaran keterampilan satu pengetahuan tertentu, ada model yang bisa
ditiru. Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan,
mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar, dan
melakukan apa yang diinginkan guru agar siswanya melakukan. Pemodelan dapat
berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar.
Dengan kata lain, model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara
melempar bola dalam olahraga, contoh karya tulis, cara melafalkan bahasa
Inggris, dan sebagainya. Atau, guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu.
Dengan begitu, guru memberi model tentang "bagaimana cara belajar".
Apabila strategi ini digunakan dalam
pembelajaran membaca dongeng berarti guru harus memberikan contoh yang benar
dan mudah dipahami siswa. Upaya ini jelas bermula dari guru yang harus lebih
dulu memahami teknik pembacaan puisi. Kalau tidak, mustahil guru mampu
memberikan contoh yang akurat.
Setiap strategi dapat dipastikan memiliki keunggulan dan kelemahan
tersendiri, seperti halnya strategi pemodelan (modeling strategy). Keunggulan yang dimiliki strategi ini, antara
lain:
1.
lebih
memusatkan perhatian pada proses dan produk hasil baca siswa;
2.
siswa
mengalami sendiri proses uji baca untuk menghasilkan suatu pemahaman guna
menjawab pertanyaan terkait dengan isi bacaan;
3.
membantu
tumbuh kembangnya kemampuan membaca siswa;
4.
hasil
uji baca siswa akan sinkron dengan tujuan pembelajaran.
Sedangkan kelemahan dari strategi ini, antara lain:
1.
tidak
setiap siswa mendapat kesempatan yang baik untuk membaca karena terbatas waktu;
2.
antarsiswa
tidak terjadi saling belajar karena masing-masing dihadapkan dengan yang sama;
3.
membutuhkan
bahan yang tidak sedikit tetapi harus seragam yang belum tentu tersedia.
Upaya untuk mengatasi kelemahan strategi ini dikemukakan Iskandarwassid
dan Sunendar (2009: 17), yakni “Perpanjang waktu pembelajaran, agar setiap
siswa dapat menempuh proses yang telah ditentukan. Bentuk kelompok belajar yang
beranggotakan 2 sampai 3 orang, agar antarsiswa dapat saling belajar. Selain
itu, upaya ini pun ditujukan untuk mengefektifkan bahan bacaan yang tersedia”.
d) Proses
PembelajaranMembaca Dongengdengan Menggunakan Strategi Pemodelan (Modeling Strategy)
Kegiatan pembelajaran membaca
dongengdengan menggunakan strategi pemodelan (modeling strategy), memerlukan pengelolaan yang serius dari guru
dan harus diikuti secara sungguh-sungguh oleh siswa. Tugas guru dalam hal ini
adalah merencanakan kegiatan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran
sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, mengevaluasi kemampuan siswa, dan
menindaklanjuti hasil evaluasi agar ke depan diperoleh hasil yang lebih baik.
Dalam suatu kegiatan pembelajaran, tugas guru selain merencanakan,
melaksanakan, dan mengevaluasi juga menindaklanjuti hasilnya agar ke depan
diperoleh pola pembelajaran yang lebih memungkinkan tercapainya kemampuan siswa
secara optimal.
Untuk lebih jelasnya mengenai tahapan-tahapan tersebut
dapat diuraikan sebagai berikut.
1.
Perencanaan
Pembelajaran
Pada tahap kegiatan perencanaan, guru mempersiapkan segala sesuatunya,
yakni setiap komponen yang biasa terdapat dalam rencana pelaksanaan pembelajaran.
Komponen-komponen tersebut seperti dikemukakan Badan Standar Nasional
Pendidikan (2006: 1), yakni,
(1) Standar kompetensi, (2) kompetensi dasar, (3) indikator hasil
belajar, (4) tujuan pembelajaran, (5) materi pembelajaran, (6) pengorganisasian
kegiatan belajar mengajar, (7) alat dan sumber pembelajaran, dan (8) penilaian
pembelajaran”.
Kedelapan komponen di atas
harus direncanakan dengan baik, artinya, guru dituntut untuk merumuskan setiap
komponen tersebut sebagai acuan atau pedoman ketika melaksanakan pembelajaran
yang sudah direncanakan.
2.
Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran membaca
dongengdengan menggunakan strategi pemodelan (modeling strategy), didasarkan pada rencana, seperti telah
dijelaskan pada komponen pengorganisasian pembelajaran. Namun perlu dijelaskan
di sini bahwa dalam pelaksanaannya direncanakan dalam tiga siklus. Setiap siklusnya,
memuat tiga rencana kegiatan pembelajaran, yakni: (1) kegiatan awal
pembelajaran, (2) kegiatan inti pembelajaran, dan (3) kegiatan akhir
pembelajaran. Pelaksanaan ketiga kegiatan tersebut pada siklus 1 didasarkan
pada ketiga kegiatan ini yang sudah direncanakan di komponen pengorganisasian
kegiatan pembelajaran dalam rencana pelaksanaan pembelajaran tertulis. Demikian
pun untuk siklus 2 dan siklus 3, pelaksanaannya berbeda dengan siklus 1. Siklus
2 didasarkan pada hasil refleksi siklus 1, sedangkan untuk siklus 3 didasarkan pada
hasil refleksi siklus 2.
3.
Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran membaca dongeng, menempuh prosedur penilaian yang
telah direncanakan pada komponen akhir dalam rencana pelaksanaan pembelajaran secara
tertulis, yakni penilaian hasil belajar melalui tes. Evaluasi dalam setiap
siklusdilaksanakan sejak masing-masing siswa membacakan dongeng.
4.
Tindak Lanjut
Upaya menindaklanjuti hasil
pembelajaran membaca dongengdengan menggunakan strategi pemodelan (modeling strategy), dilakukan guru bukan
saja pada kemampuan siswa yang diperoleh melalui evaluasi tetapi yang lebih
penting adalah menindaklanjuti proses belajar siswa pada saat menempuh kegiatan
inti pembelajaran. Upaya tindak lanjut yang diberikan kepada siswa ditujukan
agar siswa pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran selanjutnya dapat berlaku
lebih baik. Oleh karena itu, kegiatan yang sangat penting ini tidak boleh
diabaikan dalam setiap siklus pembelajaran membaca dongengdengan menggunakan
strategi pemodelan (modeling strategy).
Adapun dasar pemikiran upaya tindak lanjut tersebut, seperti dikemukakan
Kunandar (2008: 84), yang dikutip berikut “Upaya tindak lanjut dalam setiap
siklus PTK, hendaknya didasarkan pada hasil refleksi masing-masing siklus. Guru
pelaksana tindakan dan pengamat menentukan langkah-langkah strategis ke depan,
agar siswa dapat belajar lebih baik baik”.
E.
Metodologi Penelitian
a.
Tempat Penelitian
Penelitian tindakan
kelas ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Sukajayauntuk mata pelajaran bahasa Sunda
dengan kompetensi dasar membaca dongeng. Adapun yang menjadi subjeknya, yaitu
siswa kelas IV pada tahun pelajaran 2008/2009, yang berjumlah 30 orang siswa
yang terdiri atas 14 orang siswa laki-laki dan 16 orang siswa perempuan.
Pemilihan sekolah ini bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan
proses pembelajaran di sekolah binaan, khususnya mata pelajaran bahasa Sunda dalam
kompetensi dasar membaca dongeng yang dipilih sendiri.
b.
Waktu Penelitian
Penelitian ini akan
dilaksanakan pada awal tahun ajaran baru 2008/2009, yaitu bulan Juli sampai
dengan November 2008. Penentuan waktu penelitian mengacu pada kalender akademik
sekolah, karena PTK memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan proses belajar
mengajar efektif di kelas.
c.
Siklus PTK
PTK ini dilaksanakan
dalam tiga siklus, yakni untuk melihat peningkatan aktivitas dan hasil belajar
siswa dalam pembelajaran membaca dongengberdasarkan langkah-langkah strategi pemodelan
(modeling strategy).
d.
Persiapan PTK
Sebelum PTK dilaksanakan
dibuat berbagai input instrumental yang akan digunakan saat memberi perlakuan,
di antaranya menyusun rencana pembelajaran yang akan dijadikan pedoman dalam
pelaksanaan PTK. Selain itu juga akan dibuat perangkat pembelajaran yang
berupa: (1) Lembar Kerja Siswa; (2) Lembar Pengamatan Diskusi; (3) Lembar
Evaluasi. Dalam persiapan juga akan disusun daftar nama kelompok diskusi yang
dibuat secara hetrogen.
e.
Subjek Penelitian
Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa yang menjadi subjek dalam penelitian
ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 2 Sukajaya, Tahun Pelajaran 2008/2009, yang
terdiri atas 14 orang siswa laki-laki dan 16 orang siswa perempuan.
f.
Sumber Data
Sumber data penelitian
ini adalah siswa, guru, teman sejawat dan kolabolator.
g.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data penelitian ini, antara lain: tes, observasi, wawancara,
dan diskusi.
1) Tes digunakan untuk
mendapatkan data tentang hasil belajar siswa.
2) Observasi digunakan untuk
mengumpulkan data tentang partisipasi siswa dalam PBM dan implementasi
pembelajaran membaca dongengberdasarkan langkah-langkah strategi pemodelan (modeling strategy).
3) Wawancara digunakan untuk
mendapatkan data tentang tingkat keberhasilan implementasi pembelajaran membaca
dongengberdasarkan langkah-langkah strategi pemodelan (modeling strategy).
4) Diskusi antara guru, teman
sejawat, dan kolabolator digunakan untuk merefleksi hasil siklus PTK.
h.
Indikator Kinerja
Dalam PTK ini yang akan
dilihat indikator kenerjanya selain siswa juga guru, karena guru merupakan
fasilitator yang sangat berpengaruh terhadap kinerja siswa.
1.
Siswa
1) Tes: rata-rata nilai
ulangan harian.
2) Observasi: keaktifan siswa
dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakan.
2.
Guru
1) Dokumentasi: kehadiran
siswa.
2) Observasi: hasil observasi.
i.
Teknik Analisis Data
Data yang dikumpulkan
pada setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus PTK, dianalisis secara
deskriptif dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat kecenderungan
yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran. Adapun langkah-langkah yang akan
ditempuh, sebagai berikut.
1. Hasil belajar: dengan
menganalisis nilai rata-rata ulangan harian. Kemudian dikategorikan dalam
klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah.
2. Aktivitas siswa dalam PBM:
dengan menganalisis tingkat keaktifan siswa dalam PBM. Kemudian dikategorikan
dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah.
3. Implementasi pembelajaran membaca
dongengberdasarkan langkah-langkah strategi pemodelan (modeling strategy) dengan menganalisis tingkat keberhasilan,
kemudian dikategorikan dalam klasifikasi berhasil, kurang berhasil, dan tidak
berhasil.
F.
Hasil Penelitian dan
Pembahasan
a. Hasil Penelitian
Siklus I
1)
Perencanaan (Planning)
(1) Tim peneliti melakukan
analisis kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang akan disampaikan
kepada siswa melalui langkah-langkah strategi pemodelan (modeling strategy).
(2) Membuat rencana pembelajaran
membaca dongengberdasarkan langkah-langkah strategi pemodelan (modeling strategy).
(3) Membuat lembar kerja siswa.
(4) Membuat instrumen yang
digunakan dalam PTK siklus 1.
(5) Menyusun alat evaluasi
pembelajaran.
2)
Pelaksanaan (Acting)
Pada saat awal siklus I, pelaksanaan tindakan belum sesuai dengan
rencana. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan berikut.
(1) Sebagian kelompok belum
terbiasa dengan kondisi pembelajaran membaca dongeng berdasarkan
langkah-langkah strategi modeling.
(2) Sebagian kelompok belum
memahami langkah-langkah belajar membaca dongeng berdasarkan strategi pemodelan
(modeling strategy) secara utuh dan
menyeluruh.
Untuk mengatasi masalah di atas
dilakukan upaya sebagai berikut.
(1) Guru, secara intensif
memberi pengertian kepada siswa mengenai kondisi belajar membaca dongeng
berdasarkan langkah-langkah strategi pemodelan (modeling strategy).
(2) Guru membantu kelompok yang
belum memahami langkah-langkah belajar membaca dongeng berdasarkan strategi pemodelan
(modeling strategy).
Pada akhir siklus I dari hasil pengamatan guru dan kolabolator (teman
sejawat) dapat disimpulkan sebagai berikut.
(1) Siswa mulai terbiasa dengan
kondisi belajar kelompok.
(2) Siswa mulai terbiasa dengan
membaca dongengberdasarkan langkah-langkah strategi pemodelan (modeling strategy).
(3) Siswa mampu menyimpulkan
bahwa pembelajaran membaca dongengberdasarkan langkah-langkah strategi pemodelan
(modeling strategy), memiliki
langkah-langkah tertentu.
3)
Observasi dan Evaluasi (ObservingandEvaluation)
Hasil observasi dan evaluasi pada siklus I diperoleh gambaran sebagai
berikut.
(1) Hasil observasi aktivitas
siswa dalam PBM selama siklus I dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1Perolehan Skor Aktivitas Siswa dalam PBM Siklus I
Kelompok
|
Skor Perolehan
|
Skor Ideal
|
Persentase
|
Keterangan
|
Diponegoro
|
11
|
16
|
69
|
|
Hasanudin
|
12
|
16
|
75
|
|
Imam Bonjol
|
14
|
16
|
88
|
Tertinggi
|
Patimura
|
10
|
16
|
63
|
|
Cut Nyak Dien
|
8
|
16
|
50
|
Terendah
|
Teuku Umar
|
10
|
16
|
63
|
|
Kartini
|
11
|
16
|
69
|
|
Dewi Sartika
|
12
|
16
|
75
|
|
Rerata
|
11
|
16
|
69
|
|
(2) Hasil observasi siklus I
tentang aktivitas guru dalam PBM
Hasil observasi
aktivitas guru dalam kegiatan belajar mengajar pada siklus I masih tergolong
rendah dengan perolehan skor 27 atau 61,36%, sedangkan skor idealnya adalah 44.
Hal ini terjadi karena lebih banyak berdiri di depan kelas dan kurang
memberikan pengarahan kepada siswa bagaimana belajar membaca dongengberdasarkan
langkah-langkah strategi pemodelan (modeling
strategy).
(3) Hasil evaluasi siklus I,
kemampuan siswa dalam menguasai materi pembelajaran
Selain aktivitas guru
dalam PBM, penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran pun masih tergolong
kurang. Dari skor ideal 100, skor perolehan rata-rata hanya mencapai 62 atau
62%.
Grafik 1 Perolehan Skor Aktivitas Siswa
dalam
PBM Siklus I

4)
Refleksi dan Perencanaan
Ulang (ReflectingandReplanning)
Adapun keberhasilan dan
kegagalan yang terjadi pada siklus 1, sebagai berikut.
(1) Guru belum terbiasa
menciptakan suasana pembelajaran membaca dongeng berdasarkan langkah-langkah
strategi pemodelan (modeling strategy).
Hal ini diperoleh dari hasil observasi terhadap aktivitas guru dalam PBM hanya
mencapai 61,36%.
(2) Sebagian siswa belum
terbiasa dengan kondisi belajar membaca dongengberdasarkan langkah-langkah strategi
pemodelan (modeling strategy). Meski
demikian mereka merasa senang dan antusias dalam belajar. Hal ini bisa dilihat
dari hasil observasi terhadap aktivitas siswa dalam PBM hanya mencapai 69%.
(3) Hasil evaluasi pada siklus
1 mencapai rata-rata 6,20.
(4) Masih ada kelompok yang
belum bisa menyelesaikan tugas dalam waktu yang telah ditentukan. Hal ini
karena anggota kelompok tersebut kurang serius dalam belajar.
(5) Masih ada kelompok yang
kurang mampu dalam mempresentasikan hasil kegiatan kelompok.
Untuk memperbaiki
kelemahan dan mempertahankan keberhasilan yang telah dicapai pada siklus I, maka
pada pelaksanaan siklus II dapat dibuat perencanaan sebagai berikut.
(1) Memberikan motivasi kepada
kelompok agar lebih aktif lagi dalam merespon tuntutan pembelajaran.
(2) Lebih intensif membimbing
kelompok yang mengalami kesulitan.
(3) Memberi pengakuan atau penghargaan
(reward).
2.
Siklus II
1)
Perencanaan (Planning)
Perencanaan (planning) pada siklus II didasarkan pada
replanning siklus I, yakni sebagai
berikut.
(1) Memberikan motivasi kepada
kelompok agar lebih aktif lagi dalam merespon tuntutan pembelajaran.
(2) Lebih intensif membimbing
kelompok yang mengalami kesulitan.
(3) Memberi pengakuan atau
penghargaan (reward).
(4) Membuat perangkat
pembelajaran yang lebih mudah dipahami oleh siswa.
2)
Pelaksanaan (Acting)
Pelaksanaan tindakan siklus II didasarkan pada rencana sebagai konsekuensi hasil dari
refleksi siklus I. Adapun langkah-langkah yang
ditempuh, sebagai berikut.
(1) Suasana sudah mengarah pada
proses pembelajaran membaca dongeng berdasarkan langkah-langkah strategi
pemodelan (modeling strategy). Tugas
yang diberikan guru kepada kelompok dengan menggunakan lembar kerja akademik
mampu dikerjakan dengan baik. Siswa dalam satu kelompok menunjukkan saling
membantu untuk menguasai materi pelajaran yang telah diberikan melalui tanya
jawab atau diskusi antarsesama anggota kelompok.
(2) Sebagian besar siswa merasa
termotivasi untuk bertanya dan menanggapi suatu presentasi dari kelompok lain.
(3) Suasana pembelajaran yang
efektif dan menyenangkan sudah mulai tercipta.
3)
Observasi dan Evaluasi (ObservingandEvaluation)
Hasil observasi dan evaluasi
pelaksanaan tindakan siklus II menunjukkan perubahan yang lebih
baik daripada siklus I. Jelasnya mengenai hal itu, sebagai
berikut.
(1) Hasil observasi aktivitas
siswa dalam PBM selama siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2
Aktivitas Siswa dalam Kelompok pada Siklus II
Kelompok
|
Skor Perolehan
|
Skor
Ideal
|
Persentase
|
Keterangan
|
Diponegoro
|
12
|
16
|
75
|
|
Hasanudin
|
13
|
16
|
81
|
|
Imam
Bonjol
|
14
|
16
|
88
|
Tertinggi
|
Patimura
|
11
|
16
|
69
|
|
Cut Nyak
Dien
|
10
|
16
|
63
|
Terendah
|
Teuku
Umar
|
11
|
16
|
69
|
|
Kartini
|
12
|
16
|
75
|
|
Dewi
Sartika
|
13
|
16
|
75
|
|
Rerata
|
12
|
16
|
74
|
|
Grafik 2 Perolehan Skor Aktivitas
Siswa
dalam PBM
Siklus II

(2) Hasil observasi aktivitas
guru dalam PBM pada siklus II tergolong sedang. Hal ini berarti mengalami
perbaikan dari siklus I. Dari skor ideal 44, nilai yang diperoleh adalah 35
atau 80%.
(3) Hasil evaluasi kemampuan
siswa dalam menguasai materi pembelajaran pada siklus II juga tergolong sedang,
yakni dari nilai skor ideal 100 nilai rerata skor perolehan adalah 70 atau 70%.
(4) Hasil ulangan harian siklus
II mengalami peningkatan yang sebelumnya 5,48 menjadi 6,53. Ini berarti naik
1,05.
4)
Refleksi dan Perencanaan
Ulang (ReflectingandReplanning)
Adapun keberhasilan yang
diperoleh selama siklus II ini, sebagai berikut.
(1) Aktivitas siswa dalam PBM membaca
dongengsudah mengarah ke langkah-langkah strategi pemodelan (modeling strategy). Siswa mampu
membangun kerja sama dalam kelompok untuk memahami tugas yang diberikan guru.
Siswa mulai mampu berpartisipasi dalam kegiatan dan tepat waktu dalam
melaksanakannya. Siswa mulai mampu mempresentasikan hasil kerja dengan baik.
Hal ini dapat dilihat dari data hasil observasi terhadap aktivitas siswa meningkat
dari 69% pada siklus I menjadi 74% pada siklus II.
(2) Meningkatnya aktivitas siswa
dalam PBM membaca dongeng berdasarkan langkah-langkah strategi pemodelan (modeling strategy) didukung oleh
meningkatnya aktivitas guru dalam mempertahankan dan meningkatkan suasana
pembelajaran membaca dongengyang mengarah pada langkah-langkah strategi pemodelan
(modeling strategy). Guru secara
intensif membimbing siswa saat mengalami kesulitan dalam PBM. Hal ini dapat
dilihat dari hasil observasi aktivitas guru dalam PBM meningkat dari 61,36%
pada siklus I menjadi 80% pada siklus II.
(3) Meningkatnya aktivitas
siswa dalam melaksanakan evaluasi berdampak pada meningkatnya kemampuan siswa
dalam menguasai materi pembelajaran. Hal ini berdasarkan hasil evaluasi 6,20
pada siklus I meningkat menjadi 7,00 pada siklus II.
(4) Meningkatnya rata-rata nilai
ulangan harian pada siklus II menjadi 6,53.
3.
Siklus III
1) Perencanaan (Planning)
Perencanaan (planning) pada siklus III berdasarkan replanning siklus II, yaitu sebagai
berikut.
(1) Memberikan motivasi kepada
kelompok agar lebih aktif lagi dalam merespon tuntutan pembelajaran.
(2) Lebih intensif membimbing siswa
yang mengalami kesulitan dalam memahami materi ajar berdasarkan langkah-langkah
strategi pemodelan (modeling strategy).
(3) Memberi pengakuan atau
penghargaan (reward).
(4) Membuat perangkat
pembelajaran membaca dongeng berdasarkan langkah-langkah strategi pemodelan (modeling strategy) yang lebih baik lagi
agar makin mudah dipahami oleh siswa.
2) Pelaksanaan (Acting)
Pelaksanaan tindakan siklus III didasarkan pada rencana sebagai
konsekuensi hasil dari refleksi siklus II. Adapun langkah-langkah yang ditempuh, sebagai
berikut.
(1) Suasana pembelajaran membaca
dongengsudah lebih mengarah pada langkah-langkah strategi pemodelan (modeling strategy). Tugas yang diberikan guru
kepada kelompok dengan menggunakan lembar kerja akademik mampu dikerjakan
dengan lebih baik lagi. Siswa dalam satu kelompok menunjukkan saling membantu
untuk menguasai materi pelajaran yang telah diberikan. Siswa kelihatan lebih
antusias mengikuti PBM.
(2) Hampir semua siswa merasa
termotivasi untuk bertanya dan menanggapi suatu presentasi dari kelompok lain.
(3) Suasana pembelajaran yang
efektif dan menyenangkan sudah lebih tercipta.
3) Observasi dan Evaluasi (Observing and Evaluation)
Hasil observasi selama siklus III dapat dilihat seperti pada uraian
berikut.
(1) Hasil observasi aktivitas
siswa dalam PBM membaca dongeng yang disajikan dengan menggunakan strategi
pemodelan (modeling strategy) pada
siklus 3 tertuang pada tabel berikut.
Tabel
3
Perolehan
Skor Aktivitas Siswa dalam PBM Siklus III
Kelompok
|
Skor Perolehan
|
Skor Ideal
|
Persentase
|
Keterangan
|
Diponegoro
|
14
|
16
|
88
|
|
Hasanudin
|
14
|
16
|
88
|
|
Imam Bonjol
|
15
|
16
|
94
|
Tertinggi
|
Patimura
|
13
|
16
|
81
|
|
Cut Nyak Dien
|
12
|
16
|
75
|
Terendah
|
Teuku Umar
|
13
|
16
|
81
|
|
Kartini
|
14
|
16
|
88
|
|
Dewi Sartika
|
14
|
16
|
88
|
|
Rerata
|
12
|
16
|
85
|
|
Grafik
3 Perolehan Skor Aktivitas Siswa
dalam
PBM Siklus III

(2) Hasil observasi siklus III
pada aktivitas guru dalam PBM mendapat rerata nilai perolehan 40 dari skor
ideal 44 atau 91%. Hal ini berarti menunjukkan adanya peningkatan yang sangat
signifikan.
(3) Hasil evaluasi siklus III
penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran membaca dongeng berdasarkan
langkah-langkah strategi pemodelan (modeling
strategy) memiliki nilai rerata 85 atau 85% dari skor ideal 100. Hal ini
menunjukkan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran tergolong tinggi.
(4) Hasil ulangan harian ketiga
mengalami peningkatan yang cukup berarti, yakni 7,60, sedangkan sebelumnya 5,48
pada siklus I dan pada siklus II 6,53.
4) Refleksi (Reflecting)
Adapun keberhasilan yang
diperoleh selama siklus III, sebagai berikut.
(1) Aktivitas siswa dalam PBM membaca
dongeng sudah mengarah pada langkah-langkah strategi pemodelan (modeling strategy). Siswa mampu
membangun kerja sama dalam kelompok untuk memahami materi ajar. Siswa mulai
mampu berpartisipasi dalam kegiatan dan tepat waktu dalam melaksanakannya. Hal
ini dapat dilihat dari data hasil observasi terhadap aktivitas siswa meningkat dari
74% pada siklus II menjadi 85% pada siklus III.
(2) Meningkatnya aktivitas
siswa dalam PBM membaca dongeng berdasarkan langkah-langkah strategi pemodelan
(modeling strategy) didukung oleh
meningkatnya aktivitas guru dalam mempertahankan dan meningkatkan suasana
pembelajaran membaca dongeng yang mengarah ke langkah-langkah strategi
pemodelan (modeling strategy). Guru
secara intensif membimbing siswa, terutama saat siswa mengalami kesulitan dalam
PBM dapat dilihat dari hasil observasi aktivitas guru dalam PBM meningkat dari
80% pada siklus II menjadi 91% pada siklus III.
(3) Meningkatnya aktivitas
siswa dalam melaksanakan evaluasi berkontribusi terhadap meningkatnya kemampuan
siswa dalam menguasai materi pembelajaran. Hal ini berdasarkan hasil evaluasi
7,00 pada siklus II meningkat menjadi 8,50 pada siklus III.
(4) Meningkatnya rata-rata
nilai ulangan harian dari 5,48 (ulangan harian siklus I) menjadi 6,53 (ulangan
harian siklus II) dan 7,33 (ulangan harian siklus III).
b.
Pembahasan
Peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam
pembelajaran membaca
dongeng berdasarkan langkah-langkah strategi pemodelan (modeling strategy) menunjukkan ada perubahan yang signifikan.
Perubahan dimaksud, sebagai berikut.
1) Pada siklus I, aktivitas
siswa dalam belajar membaca dongengdinilai 69%. Hal ini terjadi karena siswa
belum terbiasa belajar membaca dongengberdasarkan langkah-langkah strategi pemodelan
(modeling strategy). Sangat mungkin
terjadi sebagai dampak dari guru lebih banyak berdiri di depan kelas dan kurang
memberikan pengarahan kepada siswa bagaimana melakukan pembelajaran membaca
dongeng berdasarkan langkah-langkah strategi pemodelan (modeling strategy), sehingga
masih ada kelompok yang belum bisa menyelesaikan tugas dalam waktu yang telah
ditentukan, karena anggota kelompok tersebut kurang serius dalam belajar,
dan masih ada kelompok yang kurang mampu
dalam mempresentasikan hasil kegiatan kelompok. Meski demikian kondisi ini
dinyatakan lebih baik daripada aktivitas belajar siswa sebelum diberi perlakuan
(strategi pemodelan (modeling strategy)).
Seiring dengan meningkatnya aktivitas belajar siswa pada siklus I, penguasaan
siswa terhadap materi pembelajaran pun
meski masih tergolong kurang, namun tetap mengalami peningkatan,
yakni dari skor ideal 100, skor
perolehan rata-rata hanya mencapai 62 atau 62%.
2) Pada siklus II, aktivitas
belajar siswa dalam PBM membaca dongengsudah mengarah pada langkah-langkah
strategi pemodelan (modeling strategy).
Siswa mampu membangun kerja sama dalam kelompok untuk memahami tugas yang
diberikan guru. Siswa mulai mampu berpartisipasi dalam kegiatan dan tepat waktu
dalam melaksanakannya. Siswa mulai mampu mempresentasikan hasil kerja dengan
baik. Hal ini dapat dilihat dari data hasil observasi terhadap aktivitas siswa meningkat
dari 69% pada siklus I menjadi 74% pada siklus II. Hasil evaluasi penguasaan
siswa terhadap materi pembelajaran pada siklus II tergolong sedang, yakni dari nilai skor ideal
100 nilai rerata skor perolehan adalah 70 atau 70%. Sementara berdasarkan hasil
ulangan harian siklus II mengalami peningkatan yang sebelumnya 5,48 menjadi
6,53, yang berarti naik 1,05.
3) Pada siklus III, aktivitas
siswa dalam PBM membaca dongengsudah mengarah pada langkah-langkah strategi pemodelan
(modeling strategy). Siswa mampu
membangun kerja sama dalam kelompok untuk memahami tugas yang diberikan guru.
Siswa mulai mampu berpartisipasi dalam kegiatan dan tepat waktu dalam
melaksanakannya. Siswa mulai mampu mempresentasikan hasil kerja. Hal ini dapat
dilihat dari data hasil observasi terhadap aktivitas siswa meningkat dari 74%
pada siklus II menjadi 85% pada siklus III. Meningkatnya kemampuan siswa dalam
menguasai materi pembelajaran. Hal ini berdasarkan hasil evaluasi 7,00 pada
siklus II meningkat menjadi 8,50 pada siklus III. Selain itu meningkatnya hasil
belajar siswa ditunjukkan oleh meningkatnya rata-rata nilai ulangan harian dari
5,48 (ulangan harian siklus I) menjadi 6,53 (ulangan harian siklus II) dan 7,33
(ulangan harian siklus III).
G.
Simpulan dan Saran
Setelah membahas hasil penelitian
tindakan kelas dalam pembelajaran membaca dongeng berdasarkan langkah-langkah
strategi pemodelan (modeling strategy),
akhirnya dapat diambil simpulan guna menjawab pokok masalah yang menjadi fokus
kajian penelitian ini, yaitu sebagai berikut.
1.
Penggunaan strategi pemodelan (modeling strategy) untuk meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran membaca dongengmenempuh
tahapan berikut: (1) menyusun perencanaan membaca dongeng berdasarkan langkah-langkah
strategi pemodelan (modeling strategy)
; (2) melaksanakan pembelajaran membaca dongeng berdasarkan langkah-langkah
strategi pemodelan (modeling strategy)
sesuai dengan rencana; (3) mengevaluasi aktivitas dan hasil belajar siswa; dan
(4) menindaklanjuti hasil refleksi terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa
berdasarkan observasi dan evaluasi. Proses yang ditempuh dalam setiap tahapan
ini, baik yang dilakukan guru maupun siswa tidak lepas dari ketentuan yang
berlaku, demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Aktivitas belajar siswa bukan
saja secara bertahap sesuai dengan norma pembelajaran ini, tetapi juga hasil
yang didapat pun secara bertahap meningkat pula. Siswa menjadi aktif dan
memahami perannya sebagai apa dalam anggota kelompok. Antarsiswa bukan saja
tampak merasa senang dan antusias saat berbagi ide dan bertanya jawab, tetapi
juga santun dalam melakukan hal itu. Itu sebabnya strategi pembelajaran ini
diterapkan dengan menempuh tahap tersebut guna meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar siswa sebagaimana yang diharapkan.

2. Penggunaan strategi pemodelan
(modeling strategy), terbukti dapat
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran membaca
dongeng. Selain aktivitas belajar siswa terkesan lebih bermakna (meaningfullearning), potensi aktifnya
pun dalam menggali ide, saling berbagi dan menerima gagasan sehubungan dengan
materi ajar, bertanya jawab dengan teman dan guru, kreatif dalam prakarsa dan
tindakan dengan tidak melukai perasaan satu sama lain, hal ini terjadi pada
saat proses pembelajaran ini berlangsung. Dengan sendirinya, hasil belajar
masing-masing siswa setelah menempuh proses aktivitas belajar secara terlatih
ini, meningkat. Hal ini terbukti dari hasil observasi memperlihatkan bahwa
terjadi peningkatan aktivitas yang pada siklus I hanya rata-rata 69% menjadi
74% pada siklus II, dan 85% pada siklus
III. Penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran menunjukkan ada peningkatan.
Hal ini dapat ditunjukkan dengan rata-rata hasil ulangan harian, yakni siklus I
mencapai 5,48 menjadi 6,53 pada siklus II dan 7,33 pada siklus III. Melalui
langkah-langkah strategi pemodelan (modeling
strategy) siswa membangun sendiri pengetahuan, menemukan langkah-langkah
dalam mencari penyelesaian dari suatu materi yang harus dikuasai oleh siswa,
baik secara individu maupun kelompok.
Telah terbuktinya strategi
pemodelan (modeling strategy)dapat
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran membaca
dongeng, maka diajukan saran-saran sebagai berikut.
1. Dalam kegiatan belajar
mengajar, guru diharapkan menjadikan strategi ini sebagai suatu alternatif guna
mencapai tujuan pembelajaran membaca dongeng, yaitu siswa aktif dalam belajar
dan berhasil mencapai hasil belajar yang diinginkan. Setiap tahapan yang sudah
ditempuh, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi dan tindak
lanjut, akan menjadi lebih baik apabila direnungkan secara bijak agar diperoleh
proses setiap tahapan yang akurat.
2. Karena kegiatan ini sangat
bermanfaat khususnya bagi guru dan siswa, maka diharapkan kegiatan ini dapat
dilakukan secara berkesinambungan, baik dalam mengelola pembelajaran yang sama,
maupun yang lain di dalam atau di luar mata pelajaran ini.
H.
Sumber Rujukan
Amin,
dkk. 1986. Pengajaran Membaca dan
Pengelolaan KBM di Kelas. Jakarta: Depdikbud.
Akhadiah,
Sabarti, dkk. 1992/1993. Bahasa Indonesia
III. Jakarta. Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.
Arikunto,
Suharsimi. 2003. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
BSNP.
2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMP. Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas,
2003. Kegiatan Belajar Mengajar yang
Efektif. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.
Husein,
Umar. 2003. Metodologi Penelitian dalam
Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Harjasujana,
Ahmad Slamet. 1983. Membaca dalam
Kehidupan. Bandung: Geger Sunten.
Iskandarwassid
dan Sunendar, Dadang. 2009. Strategi
Pembelajaran Bahasa. Badnung: Rosda.
Natsir,
Idris. 2003. Strategi Pengelolaan KBM.
Jakarta: Raja Grafindo.
Nurhadi
.1989. Membaca Cepat dan Efektif.
Malang : IKIP Malang.
Puspowarsito.
2008. Metode Penelitian Ilmiah.
Jakarta: Universitas Negeri Jakarta Press.
Sanjaya,
Wina. 2009. Desain Pembelajaran.
Bandung : Prenada.
Tim
Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia, 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta.
Depdiknas.
Tarigan,
H.G. 2008. Membaca Sebagai Suatu
Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Yamin, Martinis.
2009. Desain Pembelajaran Berbasis
Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Putra Grafika.
Assalamualaikum... yang terhormat Bapak Drs Nasim SH, senang sekali saya setelah membaca proposal PTK Bapak. Kebetulan saya juga akan melakukan penelitian tindakan kelas menggunakan strategi modeling. Tapi terus terang saya kekurangan referensi. Bisa saya minta rujukan, barangkali Bapak punya kumpulan buku yang bisa saya beli atau informasi lainnya. Karena saya sudah keliling di toko buku yang ada di kota saya tapi tidak dapat. Terimakasi sebelumnya. Saya sangat berharap informasi kembali dari Bapak
BalasHapuswulan, Kendari. email saya:wulaningsih_s@ymail.com
Haturnuhun
BalasHapusSilahkan yang membutuhkan contoh PTK Lengkap dengan berbagai Macam Model Dan Metode Pembelajaran yang bisa digunakan sebagai referensi dalam pembuatan karya ilmiah dan juga sebagai referensi untuk kenaikan pangkat, bapak/ibu guru tidak usah bingung dengan teori teori model dan metode pembelajaran, semua tingkat ada, PLUS JASA BIMBINGAN PEMBUATAN PTK BAHASA SUNDA DAN PTS Insya Alloh sangat bermanfaat. Untuk Pemesanan Bisa hubungi 085797510051
BalasHapus